Saturday, March 17, 2018





Teori Perkembangan Bahasa (Anak)

Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa anak tentunya tidak terlepas dari pandangan, hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah telah mencatat adanya tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak. Dua pandangan yang kontroversial dikemukakan oleh pakar dari Amerika, yaitu pandangan nativisme yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada kanak-kanak bersifat alamiah (nature), dan pandangan behaviorisme yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada kanak-kanak bersifat suapan( nurture). Pandangan ketiga muncul di Eropa dari jean piaget yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa adalah kemampuan yang ebrasal dari pematangan kognitif, sehingga pandangan nya disebut kognitivisme.[1]

Berikut ini akan dikemukakan secara singkat ketiga pandangan itu. Pandangan nativisme diwakili oleh Noam Chomsky, pandangan behaviorisme diwakili oleh B.F  Skinner, dan pandangan kognitivisme oleh jean piaget.

Teori Nativis

Pandangan ini diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau nature. pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah di programkan.

Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, anak sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Jadi lingkungan sama sekali tidak punya pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa pertama (acquisition).[2]

Para ahli nativis berpendapat bahwa bahasa merupakan pembawaan dan bersifat alamiah dan meyakini bahwa kemampuan berbahasa sebagaimana halnya kemampuan berjalan, merupakan bagian dari perkembangan manusia yang dipengaruhi oleh kematangan otak, beberapa bagian neurologis tertentu dari otak manusia memiliki hubungan dengan perkembangan bahasa, sehingga kerusakan pada bagian tersebut dapat menyebabkan hambatan bahasa.

Menurut Chomsky , Howe, Maratsos (dalam miller, 1981) berpandangan bahwa ada keterkaitan antara faktor biologis yang menekankan membentuk individu menjadi makhluk linguistik dan perkembangan bahasa. Chomsky (dalam dworetzky, 1984) mengembangkan toeri yang komplek tentang bahasa yang disebut transformation grammer theory. Menurut Chomsky, arti dari kalimat atau kandungan semantik dalam kalimat berkaitan dengan struktur yang lebih dalam yang merupakan bagian alat penguasaan bahasa.

Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Device) LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut. Dalam belajar bahasa, individu memiliki kemampuan tata bahasa bawaan untuk mendeteksi kategori bahasa tertentu seperti fonologi, sintaksis dan sematik. Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dan rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari dalam waktu singkat melalui metode seperti peniruan atau imitation. Alat ini yang merupakan pemberian biologis yang sudah di programkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa. LAD dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses bahasa, dan tidak punya kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya. Dan juga bahasa pertama itu penuh dengan kesalahan dan penyimpangan kaidah ketika pengucapan atau pelaksanaan bahasa (performance). Manusia tidak mungkin belajar bahasa pertama dari orang lain seperti klaim skinner menurut chomsky bahasa hanya dapat diuasai oleh manusia, karena:

1. Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), pola perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungan hanya memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa.

2. Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat , tidak bergantung pada  lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorisme.

 Lenneberg (1967) memiliki pendapat yang senada dengan ahli lain bahwa belajar bahasa adalah berdasarkan pengetahuan awal yang diperoleh secara biologis. Para ahli nativis menjelaskan bahwa anak dilahirkan dengan mekanisme atau kapasitas internal sehingga dapat mengorganisasi lingkingannya dan mampu mempelajari bahasa.

Para ahli nativis menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa dipengaruhi oleh kematangan seiring dengan pertumbuhan anak. Pandangan para ahli nativis yang memisahkan antara belajar bahasa dengan perkembangan kognitif dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak belajar bahasa dari ligkungan sekitarnya dan memiliki kemampuan untuk mengubah bahasanya jika lingkungannya berubah.

Periode Perkembangan Bahasa Anak

Menurut study yang dilakuan sebelum tahun 1960, minat bahasa anak mulai timbul pada dekade pertama abad ke-20 yang dipelori oleh ilmuan di bidang psikologi ataupun pedagogi, antara lain W. Stern, W. Preyer, dan G. Stumpf. Pada umumnya mereka mempelajari buku harian anak-anaknya kemudian membandingkan hasilnya. Tumbullah argumentasi-argumentasi mengenai perolahan bahasa anak.

Pada periode sesudah tahun 1960 terjadi perubahan yang cukup berarti. Disamping disebabkan karena munculnya banyak tokoh dengan teori yang di bawanya, juga dikarenakan oleh kemajuan di bidang teknologi, seperti adanya tape recorder, alat video, perhatian terhadap perkembangan bahasa anak semakin meningkat. Dengan suatu alat, bahasa anakdapat diselidiki, dengan merekam dan kemudian menganalisisnya. Tokoh-tokoh yang banyak melakukan penyelidikan berkaitan dengan hal tersebut adalah W. Miller (1964), P. Menyuk (1963), R. Brown (1964), dan Braine (1963).

M. Schaerleakens (1977) membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat periode. Perbedaan fase-fase ini berdasrkana pada cirri-ciri tertentu yang khas pada setiap periode. Adapun periode-periode tersebut sebagai berikut:

1. Periode Prelingual (usia 0 - 1 tahun)

Disebut demikian karena anak belum dapat mengucapkan ‘bahasa ucapan’ seperti yang diucapkan orang dewasa, dalam arti belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku. Pada periode ini anak mempunyai bahasa sendiri, misalnya mengoceh sebagai ganti komunikasi dengan orang lain. Contohnya baba,mama, tata, ayng mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental pada usia 9-10 bulan.

Pada periode ini, perkembangan yang menyolok adalah perkembangan comprehension, artinya penggunaan bahasa secara pasif. Misalnya anak mulai bereaksi terhadap pembicaraan orang dengan melihat kepada pembicara dan memberikan reaksi yang berbeda terhadap suara yang ramah, yang lembut, dan yang kasar.[3]

2. Periode Lingual Dini (1 - 2,5 tahun)

Pada periode ini anak mulai mengucapkan perkataannya yang pertama, meskipun belum lengkap. Misalnya: atia (sakit), agi (lagi), itut (ikut), atoh (jatuh). Pada masa ini beberapa kombinasi huruf masih sukar diucapkan, juga beberapa huruf masih sukar untuk diucapkan seperti r, s, k, j, dan t. pertambahan kemahiran berbahasa pada periode ini sangat cepat dan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu:

a. Periode kalimat satu kata ( holophrare)

Menurut aturan tata bahasa, kalimat satu kata bukanlah suatu kalimat, karena hanya terdiri dari satu kata, tetapi para ahli peneliti perkembangan bahasa anak beranggapan bahwa kata-kata pertama yang diucapkan oleh anak itu mempunyai arti lebih dari hanya sekedar suatu ‘kata’ karena kata itu merupakan ekspresi dari ide-ide yang kompleks, yang pada orang deawasa akan dinyatakan dalam kalimat yang lengkap.

Contohnya: ucapan “ibu” dapat berarti:
Ibu kesini! Ibu kemana? Ibu tolong saya!
Itu baju ibu, Ibu saya lapar, dst

Pada umunya, kata pertama ini dipergunakan untuk member komentar terhadap obyek atau kejadian di dalam lingkungannya. Dapa berupa perintah, pemberitahuan, penolakan, pertanyaan, dll. Bagaimana menginterpretasikan kata pertama ini tergantung pada konteks waktubkata tersebut di ucapkan, sehingga untuk dapat mengerti apa maksud si anak dengan kata tersebut kita harus melohat atau mengobservasi apa yang sedang dikerjakan anak pada waktu itu. Intonasi juga sangat membantu untuk mempermudah menginterpretasikan apakah si anak bertana, member tahu, atau memerintah.

b. Periode kalimat dua kata

Dengan bertambahnya perbendaharaan kata yang diperolah dari lingkungan dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi-fungsi lain pada anak, maka terbentuklah pada periode ini kalimat yang terdiri dari dua kata.

Pada umunya, kalimat kedua muncul pertama kali tatkala seorang anak mulai mengerti suatu tema dan mencoba untuk mengekspresikannya. Hal ini terjadi pada sekitar usia 18 bulan, dimana anak menentukan bahwa kombinasi dua kata tersebut mempunyai hubungan tertentu yang mempunya makna berbeda-beda, misalnya makna kepunyaan (baju ibu), makna sifat (hidung pesek), dan lain sebagainya.

c. Kalimat lebih dari dua kata

Kalau ada lebih dari dua kata di bidang morfologi belum terlihat perkembangan yang nyata, maka pada periode kalimat lebih dari dua kata sudah terlihat kemampuan anak di bidang morfologi. Keterampilan membentuk kalimat bertambah, terlihat dari panjangnay kalimat, kalimat tiga kata, kalaimat empat kata, dan seterusnya. Pada periode ini penggunaan nahasa tidak bersifat egosentris lagi, melainkan anak sudah mempergunakan untuk komunikasi dengan orang lain, sehingga mulailah terjadi suatu hubungan yang sesungguhnya antara anak dengan orang dewasa.[4]

3. Periode Diferensiasi (usia 2,5 - 5 tahun)

Yang menyolok pada periode ini adalah keterampilan anak dalam mengadakan diferensiasi dalam penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat[5]. Secara garis besar ciri umum perkembangan bahasa pada periode ini adalah sebagai berikut:

-  Pada akhir periode secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya hukum-hukum tatabahasa yang pokok dari orang dewasa telah dikuasai.

- Perkembangan fonologi boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan konsonan yang majemuk dan sedikit kompleks.

- Perbendaharaan kata sedikit demi sedikit mulai berkembang.Kata benda dan karta kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam pemakaiannya, hal ini ditandai dengan penggunaan kata depan, kata gati dank at kerja bantu.

- Fungsi bahasa untuk komunikasi benar-benar mulai berfungsi. Persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, membri tahu dan lain-lain.

- Mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan munculnya kata jamak, perubahan akhiran, perubahan kata karja, dan lain-lain.

4. Perkembangan bahasa sesudah usia 5 tahun

Dalam periode ini ada anak dianggap telah menguasai struktur sintaksis dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat membuat kalimat lengkap. Jadi sudah tidak terlalu banyak masalah. Menurut Piaget, pada periode ini perkembangan anak di bidang kognisi masih berkembang terus sampai usia 14 tahun, sedangkan peranan kognisi sanga t besar dalam penggunaan bahasa. Dengan masih terus berkembangnya kognisi, dengan sendirinya perkembangan bahasa juga masih berkembang. 

Ada beberapa penelitian tentang perkembangan bahasa sesudan usia 5 tahun, antara lain penelitian yang dilakukan oleh A. Karmiloff Smith yang menyelidiki bahasa anak-anak sekolah (1979) yang menyatakan bahwa antara usia 5 – 8 tahun muncul cirri-ciri baru yang khas pada bahasa anak, yaitu kemampuan untuk mengerti hal-hal yang abstrak pada taraf yang lebih tinggi. Baru kemudian sesudah anak usia 8 tahun bahasa menjadi alat yang betul-betuk penting baginya untuk melukiskan dan menyampaikan pikiran.

Dalam bidang semantic terlihat kemajuan-kemajuan yang tercermin pada penambahan kosa kata, dan penggunaan kata sambung secara tepat. Tetapi aturan sintaksis khusus untuk pembuatan kalimat konteks baru dikuasai secara bertahap antara usia 5 – 10 tahun. Selanjutnya pada usia 7 tahun baru dapat menggunakan kalimat pasif, maksudnya mengerti aturan-aturan tatabahasa mengenai prinsip-prinsip khusus, bertidak ekonomis dalam mengungkapkan sesuatu serta menghindari hal-hal yang berlebihan. Sampai SMP keterampilan bicara lebih meningkat, sintaksis lebih lengkap dengan variasi-variasi struktur dan variasi-variasi kata, baik kekomplekan kalimat tulis maupun lisan.[6]




       [1]Abdul Chaer, psikologi kajian teoritik,2003. Jakarta. Rineka Cipta. Hal:221.
       [2]Ibid, hal:224.
[3]Samsunuwiyati Mar’at. Psikolinguistik . 2005. Bandung: Refika Aditama. Hal:61-62.
[4]Ibid, hal:66
[5]http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/tadris/article/view/229/220.130317:23.05
[6]http://melyloelhabox.blogspot.co.id.070317:15.45



psikolinguistik


Pengertian Psikolinguistik
Secara etimologi kata psikolinguistik berasal dari bahasa Yunani Kuno psyche dan logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma”. Sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi secara harfiah berarti “ilmu jiwa”, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa[1].Sedangkan linguistik secara umum bisa diartikan sebagai ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya.

Secara etimologi sudah disinggung bahwa psikologi dan linguistik adalah cabang ilmu yang berbeda, namun keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya.Istilah psikolinguistik itu sendiri baru lahir tahun 1954, yakni tahun terbitnya buku psycholinguistics : A Survey of theory and research prolems yang disunting oleh Charles E. Osgood dan thomas A. Sebeok, di Bloomington, Amerika Serikat[2].

Secara terminologi, menurut Robert Lado psikolinguistik adalah pendekatan gabungan melalui psikologi dan linguistik bagi telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian, perubahan bahasa, dan hal-hal yang ada kaitannya dengan itu yang tidak begitu mudah dicapai atau didekati melalui salah satu dari kedua ilmu tersebut secara terpisah atau sendiri-sendiri[3]. Menurut Emmon Bach psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara atau pemakai sesuatu bahasa membentuk atau membangun atau mengerti kalimat-kalimat bahasa tersebut[4]. Menurut Lila R. Gleitman psikolinguistik adalah telaah mengenai perkembangan bahasa pada anak-anak ; suatu introduksi teori linguistik ke dalam masalah-masalah psikologis[5]. Sedangkan menurut Herley psikolinguistik adalah studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa[6].

Dari definisi-definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam berbahasa.

Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1937). Maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya[7].

Objek dan Ruang Lingkup Psikolinguistik

Sebagaimana disiplin ilmu yang baru, psikolinguistik juga memiliki objek kajian sebab salah satu syarat berdirinya suatu disiplin ilmu adalah adanya objek kajian. Pada dasarnya, objek dari psikolinguistik itu adalah bahasa yang berproses pada jiwa manusia[8]. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologi. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasanya dengan orang yang sedang gembira, titik berat psikolinguistik adalah dari segi bahasa yang diucapkan, dan bukan gejala jiwa. Itu sebabnya dalam batasan-batasan psikolinguistik yang telah dikemukakan, selalu ditonjolkan proses bahasa yang terjadi pada otak. Baik proses yang terjadi pada otak pembicara, maupun proses yang terjadi di otak pendengar[9].

Perbedaan objek linguistik dan psikolinguistik adalah bahwa linguistik mengkaji bahasa dalam kancah kehidupan yang sebenarnya, sedangkan psikolinguistik mengkaji bahasa yang berproses dalam jiwa manusia. Sesuatu yang berproses dalam jiwa manusia itu lebih tepat apabila didekati dengan pendekatan psikologi. Namun demikian, karena yang berproses dalam jiwa manusia itu bahasa, maka upaya pendekatannya pun dilakukan dengan pendekatan psikolinguistik. Dalam hal ini, berarti pendekatan objek dengan menggunakan salah satu diantaranya (psikologi/linguistik) sulit dilakukan.Upaya pendekatannya hanya dapat digunakan menggunakan cara dari dua disiplin tersebut yang kemudian digabung dalam wujud psikolinguistik[10].

Dengan mencoba menganalisis objek linguistik dan objek psikologi dan titik berat kajian psikolinguistik, dapat ditarik kesimpulan bahwa ruang lingkup psikolinguistik mencoba memberikan bahasa dilihat dari aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Itu sebabnya topik-topik penting yang menjadi lingkupan psikolinguistik adalah :
a. Proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran.
b. Akuisisi bahasa.
c. Pola tingkah laku berbahasa.
d. Asosiasi verbal dan persoalan makna.
e. Proses bahasa pada orang yang abnormal.
f. Persepsi ujaran dan kognisi[11].

 Subdisiplin Psikolinguistik

Dari keterangan di atas bisa kita lihat bahwa disiplin psikolinguistik telah menjadi bidang ilmu yang sangat luas dan kompleks. Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik itu adalah:

a. Psikolinguistik Teoritis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.

b. Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.

c. Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat-bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.

d. Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.

e. Psikolinguistik-Neurologi (Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun, ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk dalam otak itu.

f. Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.

h. Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam sub disiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra[12].

Hubungan Psikolinguistik dan Pembelajaran Bahasa

Pembelajaran bahasa mengacu pada proses pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya (B1). Untuk masalah yang dibicarakan ini ada pakar yang menyebut dengan istilah pembelajaran bahasa (leanguage learning) dan ada pula yang pemerolehan bahasa (language acquisition) kedua. Digunakannya istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sengaja dan sadar. Hal ini berbeda dengan penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu yang diperoleh secara alamiah, secara tidak sadar di dalam lingkungan keluarga pengasuh kanak-kanak itu. Bagi mereka yang menggunakan istilah pemerolehan bahasa kedua (ketiga, dan seterusnya) beranggapan bahwa bahasa kedua itu juga merupakan sesuatu yang dapat diperoleh, baik secara formal dalam pendidikan formal, maupun informal dalam lingkungan kehidupan. Dalam masyarakat yang bilingual atau multibilingual pemerolehan bahasa kedua secara informal ini bisa saja terjadi, seperti di daerah pinggiran Jakarta di mana bahasa Melayu Betawi bertumpang tindih dengan bahasa Sunda, membuat banyak kanak-kanak sekaligus memperoleh kemampuan berbahasa Melayu dialek Jakarta dan berbahasa Sunda[13].

Psikolinguistik sangat erat hubungannya dengan pembelajaran bahasa, karena di samping ruang lingkup pembahasan psikolinguistik mencakup pembahasan fenomena pemerolehan dan pembelajaran bahasa, ia juga membahas bagaimana pembelajaran bahasa yang baik. Begitu juga pembelajaran bahasa Arab, yang mengikuti prinsip pendidikan, prinsip psikologis, dan prinsip linguistik, di mana ketiga prinsip ini merupakan titik temu antara linguistik dan pembelajaran bahasa. Di sini penulis akan memaparkan titik temu psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa Arab berdasarkan prinsip pendidikan, psikologis, dan linguistik[14].

a. Prinsip Pendidikan

Prinsip ini berkaitan dengan komponen kurikulum, yaitu: tujuan, metode, materi, dan evaluasi pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajarannya, seorang guru bahasa Arab harus mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya: motivasi, kemampuan, perbedaan individu, dan lain-lain. Sedangkan metode pembelajaran bahasa, harus mengikuti pendekatan atau teori pembelajaran behaviorisme atau kognitivisme. Beberapa metode dengan pendekatan behaviorisme adalah metode langsung (الطريقة المباشرة),audiolingual (الطريقة السمعية الشفوية). Sedangkan metode dengan pendekatan kognitivisme di antaranya adalah metode silent way (الطريقة الصامتة), kaidah tarjamah (الطريقة القواعد و الترجمة). Begitu juga dalam materi pembelajaran bahasa Arab, guru juga harus menyesuaikan materi dengan kecenderungan pelajar (ميول الطلاب), signifikansi materi (أهمية) untuk pelajar[15].

b. Prinsip Psikologis
Dari sudut prinsip psikologis, dapat dilihat hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa dari kaitan metode pembelajaran bahasa dengan teori psikologi pembelajaran. Ada dua teori besar psikologi pembelajaran yaitu behaviorisme dan kognitivisme. Teori behaviorisme memfokuskan pembelajaran dengan teknik pembiasaan, pengulangan, peniruan, penguatan, dan pengaruh, di mana teknik ini sesuai dengan metode langsung yang membiasakan pelajar dengan bahasa tujuan dengan meninggalkan bahasa asli pelajar, begitu juga audiolingual yang memfokuskan pembelajaran bahasa dengan meniru dan mengulang-ngulang pelajaran bahasa.
Sementara itu, teori kognitivisme memfokuskan pembelajaran bahasa dengan teknik pemahaman dan pendalaman dari segi kemampuan bahasa (الكفاية اللغوية). Daripada performansi bahasa (الأداء اللغوية) tersebut sebagaimana yang didengungkan oleh behaviorisme. Konsep ini sesuai dengan metode kaidah –tarjamah dan metode silent way[16].

c. Prinsip Linguistik
Dari sudut prinsip linguistik, kita dapat melihat hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa dari kaitan metode pembelajaran bahasa dengan teori linguistik. Teori linguistik adalah teori yang mengkaji analisa bahasa, di mana ada dua aliran besar yaitu: strukturalisme dan transformatif-generatif.
Struktualisme menganggap asal bahasa adalah ucapan-ucapan yang dalam perjalanannya dirumuskan dengan tujuan memudahkan pembelajaran bahasa. Sehingga pembelajaran bahasa mestinya diajarkan dengan teknik peniruan, pembiasaan, pengulangan, sebagaimana pandangan behaviorisme. Sedangkan transformatif-generatif menganggap kaidah merupakan jembatan yang menghubungkan antara penutur dengan pendengar, sehingga keduanya harus menguasainya agar komunikasi seimbang. Oleh karena itu, teori ini berpandangan bahwa pembelajaran bahasa hendaknya memfokuskan kepada penguasaan kaidah bahasa, agar mempu berkomunikasi nantinya[17].
Demikianlah hubungan psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa Arab berdasarkan tiga prinsip, yaitu prinsip pendidikan, prinsip psikologis, dan prinsip linguistik.




[1]Abdul Chaer, Psikolinguistik (Kajian Teoretik), (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), cet. II, hlm. 2
[2]Ibid., hlm. 5
[3]Henry Guntur Tarigan, Psikolinguistik, (Bandung: Angkasa, 1985), cet. II, hlm. 3
[4]Ibid., hlm. 3
[5]Ibid., hlm. 4
[6]Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012), hlm. 7
[7]Abdul Chaer, Op. Cit., hlm. 5
[8]Eko Suroso, Psikolinguistik, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014), hlm. 7
[9]http://kujuk-kujuknyalukman.blogspot.co.id/2012/03/bab-i-psikolinguistik-dan-kajiannya,html?m=1
[10]Eko Suroso, Op. Cit., hlm. 9
[11]Saska al Bahiyy, “Psikolinguistik dan Ruang Lingkupnya”, (http://saska-albahiyy.blogspot.co.id/2012/11/psikolinguistik-dan-ruang-lingkupnya.html?m=1 diakses pada 11 Maret 2017)
[12]Abdul Chaer, Op. Cit., hlm. 7
[13]Ibid., hlm. 242
[14]Mochamad Ismail, “Peranan Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, (http://ejournal.uinda.gontor.ac.id/index.php/tadib/aticle/view/508 diakses pada 11 Maret 2017)
[15]Ibid
[16]Ibid
[17]Ibid


Popular Posts